iNewsFeed – Kebijakan baru dalam dunia atletik internasional yang mewajibkan atlet perempuan menjalani tes genetik untuk menentukan kelayakan bertanding memicu perdebatan global. Sejumlah atlet di Inggris bahkan diminta membayar sendiri biaya tes tersebut jika ingin tampil di kompetisi internasional.
Aturan ini berkaitan dengan kebijakan baru dari World Athletics yang mewajibkan semua atlet yang ingin berkompetisi di kategori perempuan menjalani tes gen SRY, yaitu tes DNA untuk mendeteksi keberadaan kromosom Y yang berkaitan dengan penentuan jenis kelamin biologis.
Tes tersebut biasanya dilakukan melalui sampel air liur atau darah dan hanya perlu dilakukan sekali sepanjang karier atlet. Hasilnya akan menentukan apakah atlet tersebut memenuhi syarat untuk bertanding di kategori perempuan pada kejuaraan dunia maupun kompetisi resmi lainnya.
Namun kebijakan ini menuai kritik setelah sejumlah atlet di Inggris diminta membayar sekitar £185 atau sekitar Rp3,7 juta untuk melakukan tes tersebut secara mandiri sebelum mengikuti kompetisi internasional.
Sebagian atlet menilai aturan tersebut tidak adil karena beban biaya hanya ditanggung oleh atlet perempuan, sementara atlet pria tidak menjalani prosedur serupa. Selain itu, keterbatasan anggaran federasi atletik Inggris disebut menjadi alasan mengapa biaya tes tidak sepenuhnya ditanggung organisasi olahraga nasional.
Di sisi lain, pimpinan World Athletics mempertahankan kebijakan tersebut sebagai langkah untuk menjaga keadilan kompetisi. Presiden organisasi tersebut, Sebastian Coe, menegaskan bahwa aturan ini bertujuan melindungi integritas olahraga perempuan.
Menurut Coe, kompetisi olahraga harus memastikan bahwa kategori perempuan diikuti oleh atlet yang memenuhi kriteria biologis yang telah ditetapkan oleh federasi internasional.
Meski demikian, sejumlah akademisi dan kelompok hak asasi manusia mengkritik aturan ini karena dianggap terlalu sederhana dalam menentukan jenis kelamin biologis dan berpotensi menimbulkan stigma terhadap atlet dengan variasi biologis tertentu.
Kontroversi ini menambah panjang daftar perdebatan mengenai identitas gender, sains, dan keadilan kompetisi dalam olahraga internasional. Dengan semakin banyaknya turnamen global dalam beberapa tahun ke depan, kebijakan tersebut diperkirakan masih akan menjadi topik panas di dunia atletik.








